Abstract
unci:
Bank Sampah, Karakter Peduli Lingkungan Pengelolaan sampah yang tidak
tepat akan menimbulkan permasalahan bagi lingkungan. Pengembangan
karakter peduli lingkungan merupakan salah satu solusi untuk
menanggulangi permasalahan lingkungan. Pengembangan karaker peduli
lingkungan dapat dimulai dari lingkungan sekolah seperti yang dilakukan
oleh SMP Negeri 3 Pati, yaitu mengembangkan karakter peduli lingkungan
kepada peserta didik melalui program bank sampah. Berdasarkan latar
belakang tersebut di atas, rumusan masalah yang diteliti adalah 1)
pengelolaan program bank sampah di SMP Negeri 3 Pati, 2) pengembangan
karakter peduli lingkungan melalui program bank sampah di SMP Negeri 3
Pati, dan 3) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan program bank
sampah sebagai pengembangan karakter peduli lingkungan di SMP Negeri 3
Pati. Sesuai dengan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini
adalah 1) mengetahui pengelolaan program bank sampah di SMP N 3 Pati, 2)
mengetahui pengembangan karakter peduli lingkungan melalui program bank
sampah di SMP N 3 Pati, dan 3) mengetahui faktor pendukung dan
penghambat pelaksanaan program bank sampah sebagai pengembangan karakter
peduli lingkungan di SMP N 3 Pati. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif. Lokasi penelitian adalah di SMP Negeri 3 Pati. Fokus
penelitian ini adalah pengelolaan program bank sampah di SMP Negeri 3
Pati, pengembangan karakter peduli lingkungan melalui program bank
sampah di SMP Negeri 3 Pati, dan faktor pendukung dan penghambat
pelaksanaan program bank sampah sebagai pendidikan kerakter peduli
lingkungan di SMP Negeri 3 Pati. Sumber data yang digunakan adalah data
primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik
wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan
teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, 1) Program
bank sampah di SMP Negeri 3 Pati dimulai dari tahap sosialisasi program
melalui upacara bendera dan petugas bank sampah, kemudian dilanjutkan
dengan pemilahan sampah yang dilakukan setiap kelas masing-masing,
dilanjutkan dengan penyetoran dan penimbangan sampah, kemudiaan sampah
hasil penyetoran tersebut ditampung di gudang bank sampah yang
selanjutnya akan dijual pada setiap akhir semester. 2) Pengembangan
karakter peduli lingkungan dilakukan melalui keikut sertaan peserta
didik dalam program bank sampah yaitu melalui kebijakan kewajiban
perkelas menyetorkan sampah minimal seberat satu kilogram setiap minggu
ke bank sampah. Adanya kewajiban tersebut menjadikan bank sampah
terkesan membebani siswa dan berorientasi pada kuantitas sampah dan uang
yang dihasilkan, sehingga hal tersebut dapat mengesampingkan
pengembangan karakter peduli lingkungan yang ingin dicapai. 3) Faktor
pendukung program bank sampah di SMP N 3 Pati adalah adanya fasilitas
penunjang seperti alat penimbang, kantor, dan gudang bank sampah. Faktor
pendukung lain yang berasal dari luar sekolah adalah dari BLH Kabupaten
Pati yaitu memberikan sosialisasi program bank sampah dan bantuan
tempat sampah. Sedangkan faktor yang menghambat yaitu masih adanya
beberapa siswa yang memiliki sikap malas untuk ikut berpartisipasi aktif
dalam program bank sampah, karena merasa tidak minat dengan program
tersebut. Selain itu kewajiban menyetorkan sampah minimal satu kilogram
perminggu untuk setiap kelas juga dapat menghambat pengembangan karakter
peduli lingkungan, karena orientasi bank sampah akan beralih kepada
jumlah sampahdan uang yang dihasilkan. Simpulan dari penelitian ini
adalah 1) Program bank sampah dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu
sosialisasi, pemilahan sampah, penyetoran dan penimbangan, dan
penjualan. 2) Adanya kewajiban perkelas menyetorkan sampah seberat satu
kilogram perminggu ke bank sampah belum bisa mengembangkan karakter
peduli lingkungan peserta didik, karena orientasi bank sampah terletak
pada kuantitas sampah dan uang yang dihasilkan. 3) Faktor pendukung
yaitu adanya fasilitas kantor dan gudang bank sampah, adanya sosialisasi
program bank sampah dan bantuan tempat sampah dari BLH Kabupaten Pati.
Faktor penghambat yaitu dari beberapa siswa yang malas berpartisipasi
dan adanya kewajiban perkelas untuk menyetorkan sampah minimal satu
kilogram ke bank sampah. Saran dalam penelitian ini adalah 1) Pihak
sekolah seharusnya tidak mewajibkan siswa untuk tiap kelas minimal
mengumpulkan sampah satu kilogram, karena akan terkesan mengesampingkan
pengembangan karakter peduli lingkungan dan bank sampah lebih
berorientasi pada jumlah sampah dan uang yang dihasilkan. 2) Pihak
sekolah harus selalu menggalakan dan meningkatkan program ini agar dapat
dijadikan contoh untuk sekolah-sekolah yang lain. 3) Perlu adanya
peningkatan manajemen, sehingga pencapaian yang dihasilkan dapat selalu
dievaluasi.
0 comments:
Post a Comment